Tenario's Gospel

Minggu, 04 Januari 2009

Let's Play Some Football!











It's the greatest pregame speech quote from the great coach Tony D'Amato aka Mr. Al Pacino himself, from the best football movie ever made in my opinion. Some people maybe like Remember The Titans or Friday Night Lights or hell maybe Varsity Blues, but for me it's always Any Given Sunday!

I don’t know what to say, really. Three minutes to the biggest battle of our professional lives. All comes down to today, and either, we heal as a team, or we're gonna crumble. Inch by inch, play by play. Until we're finished. We're in hell right now, gentlemen. Believe me. And, we can stay here, get the shit kicked out of us, or we can fight our way back into the light. We can climb outta hell... one inch at a time.

Now I can't do it for ya, I'm too old. I look around, I see these young faces and I think, I mean, I've made every wrong choice a middle-aged man can make. I, uh, I've pissed away all my money, believe it or not. I chased off anyone who's ever loved me. And lately, I can't even stand the face I see in the mirror. You know, when you get old, in life, things get taken from you.

I mean, that's... that's... that's a part of life. But, you only learn that when you start losin' stuff. You find out life's this game of inches, so is football. Because in either game - life or football - the margin for error is so small. I mean, one half a step too late or too early and you don't quite make it. One half second too slow, too fast and you don't quite catch it.

The inches we need are everywhere around us. They're in every break of the game, every minute, every second. On this team we fight for that inch. On this team we tear ourselves and everyone else around us to pieces for that inch. We claw with our fingernails for that inch. Because we know when add up all those inches, that's gonna make the fucking difference between winning and losing! Between living and dying!

I'll tell you this, in any fight it's the guy whose willing to die whose gonna win that inch. And I know, if I'm gonna have any life anymore it's because I'm still willing to fight and die for that inch, because that's what living is, the six inches in front of your face.

Now I can't make you do it. You've got to look at the guy next to you, look into his eyes. Now I think ya going to see a guy who will go that inch with you. Your gonna see a guy who will sacrifice himself for this team, because he knows when it comes down to it your gonna do the same for him. That's a team, gentlemen, and either, we heal, now, as a team, or we will die as individuals. That's football guys, that's all it is. Now, what are you gonna do?

Label:

Senin, 23 Juni 2008

No Kidding, Hiddink















Rusia atau yang pada tahun 1988 masih berstatus Uni Soviet takluk pada partai puncak Piala Eropa 88 dari Belanda, yang pada saat itu dimotori oleh Gullit, Rijkkard, dan mesin gol Van Basten.

Persis 20 tahun kemudian pada pergelaran Euro 2008, roda nasib kembali mempertemukan mereka. Memulai kampanyenya di grup D dengan terseok-seok setelah dihancurkan oleh Spanyol dengan skor 4-1, pasukan beruang merah berhasil bangkit di 2 partai grup dengan menang atas Yunani dan Swedia.

Balanda sendiri memulai fase grup dengan gilang gemilang dengan menaklukan juara dunia Itali dengan skor 3-0. Kemudian giliran tim ayam jantan, Perancis dilibas 4-1, sebelum menutup fase grup dengan melumat Rumania, 2-0.

Di atas kertas semua hitungan memihak kepada Belanda. Bahkan di benak sebagian orang partai final sudah dipastikan milik Portugal vs Belanda, dan gue adalah salah satunya hehehehehehe. Tapi ada 1 hal yang gue lupa, “BOLA ITU BUNDAR, BUNG!”

Setelah Jerman dengan meyakinkan memulangkan Portugal, dan Turki yang lagi-lagi menunjukkan semangat pantang menyerah yang membuat frustasi anak-anak Kroasia. Kini giliran Rusia yang menghentak pesta sepakbola eropa tersebut dengan penampilan impresif yang mampu membungkam Belanda.

Setelah bermain 0-0 di babak pertama, Pavlyuchenko memecah kebuntuan dengan golnya di menit ke 56. Permainan berlansung menarik, dan acungan jempol layak diberikan kepada Rusia yang menolak bermain sepakbola negative walaupun sudah leading 1-0.

Namun usaha keras Belanda merubah keadaan akhirnya membuahkan hasil di menit 86. Diawali pelanggaran di sisi kanan pertahanan Rusia, Belanda mendapat kesempatan tendangan bebas yang berhasil dimaksimalkan oleh Van Nistelrooy yang menanduk bola ke dalam gawang Rusia.

Akhirnya pertandingan harus dilanjutkan ke babak perpanjangan waktu, dan disinilah Rusia menunjukkan kualitasnya sebagai tim kuda hitam yang layak diperhitungkan. Berawal dari serangan balik yang menyisir sisi kiri pertahanan Belanda, bola berhasil diumpan Arshavin dan diceploskan dengan sempurna oleh Toborski, 2-1 untuk Rusia. Kemudian tidak lama berselang lahirlah gol yang memupus harapan Belanda sama sekali, kerjasama tim apik yang diselesaikan dengan dingin oleh Arshavin, Hiddink 3 Van Basten 1.

Melangkah dengan begitu meyakinkan ke babak selanjutnya, pasukan Gus Hiddink akan kembali meladeni Spanyol yang menang pinalti saat menghadapi Italia. Dengan partai semifinal yang mempertemukan Jerman-Turki dan Spanyol-Rusia, patut disimak apakah para underdog akan kembali membuat kejutan ataukah reputasi yang mapan dari Jerman dan Spanyol mampu menjinakkan derap laju para tim kuda hitam. Kita tunggu saja…=)

Label:

Rabu, 18 Juni 2008

Euro Londo















Haaaaaaahhhh akhirnya ada kesempatan buat nulis lagi…=). Beberapa minggu belakang ini kesibukan di kantor lagi mencapai peak season sehubungan dengan rentetan event yang harus dijelang, jadi terpaksa deh blog gue agak terbengkalai hehehehehe.

Bahkan acara nonton piala Eropa yang biasanya semua pertandingan gue lahap tanpa disortir lagi, harus ikut beradaptasi. Only interesting game yang gue tonton, sisanya yah nonton di acara lensa olahraga saja lah.

Tapi ngomong-ngomong soal sepakbola, kantor gue termasuk kantor yang unik dalam pandangan gue. Bayangin aja jo, masa di kantor yang lumayan gede gitu, 1 pun cowoknya enggak ada yang doyan bola!!! Orang yang bisa gue ajak bertukar pikiran dan terlibat dalam percakapan yang cukup intens dalam mengupas masalah bola secara detail, cuma OB dan satpam. ADA APA DENGAN PARA LELAKI DI KANTOR GUE?!?

Yo wis, kita lupakan-lah anomali alam di kantor gue itu, dan kembali ngebahas Euro 2008. Buat kompetisi yang sekarang sih, sejauh ini gue cukup happy-happy joy-joy karena tim favorit gue Belanda akhirnya kembali menampilkan sepakbola Total Football yang pernah membawanya berjaya di era 70-an akhir dan 80-an akhir.

Hasilnya gokil, Itali dibantai 3-0, terus Perancis dibabat 4-1 dengan mencatat rekor gol balasan tercepat dalam sejarah Euro, yang dicetak oleh Robben dengan indahnya. Selain Belanda, tim lain yang cukup memukau adalah Portugal, Spanyol, Kroasia, dan terakhir Turki yang mencatat comeback yang luar biasa dalam partai hidup mati melawan Ceko.

Prediksi gue sih di 4 besar akan bertemu Portugal vs Kroasia n Belanda vs Spanyol, dan finalnya akan menjadi milik Portugal vs Belanda, n the sweet finale will be the Hollander triumphing over the Portuguese. Maju terus meener….=)

Label:

Senin, 19 Mei 2008

Blue's Clue



















Selesai ngebahas MU, kayaknya ngak afdol kalo saya ngak ngebahas sedikit juga tentang The Blues Chelsea. Sebenarnya menjelang Final Liga Champions di Moscow Kamis ini perasaan saya sedang terbagi. Kayak buah simalakama, saya bingung mesti mendukung yang mana karena kedua-duanya adalah tim kesayangan saya. So Kamis ini saya akan menjadi pihak netral saja dan menikmati sepakbola murni dari permainannya tok, tanpa ada embel-embel megang siapa…=)

Dari segi prestasi Chelsea sebenarnya tidak bisa dibilang gagal musim ini. Walaupun diwarnai dengan kejutan mundurnya Jose Mourinho di awal musim, Avram Grant yang masuk dan berperan sebagai caretaker cukup mampu membuat The Blues konsisten dan tidak malu-maluin dari segi pencapaian musim ini. Mulai dari berhasil masuk ke final Piala Carling, berhasil mengintai MU hingga pekan terakhir untuk bersaing merebut posisi juara liga, dan untuk pertama kalinya dalam sejarah klub menembus babak final liga Champions.

Terlepas dari raportnya yang cukup lumayan, saya tetap pada pendirian awal bahwa Avram Grant harus diganti apapun hasil dari pertandingan Kamis nanti. Rumor ramai mengatakan bahwa Frank Rijkaard dan Gus Hiddink adalah kandidat terkuat sebagai penggantinya, namun kabar terakhir juga menyebutkan Michael Laudrup masuk ke bursa pelatih Chelsea musim depan.

Siapapun dari ketiga sosok ini yang terpilih it’s okay with me, Rijkaard sendiri sudah membuktikan dirinya sebagai pelatih yang memiliki skema permainan yang selain enak dilihat juga berhasil menyumbangkan 1 trophy liga Champions, terlepas dari buruknya penampilan Barca di musim ini. Gus Hiddink sendiri adalah pelatih yang jenius, terbukti dalam 2 piala dunia terakhir tangan dinginnya berhasil menyulap Korea Selatan dan Australia menjadi tim yang mampu tampil memukau dan menyulitkan negara-negara dengan sejarah sepakbola yang lebih mapan. Nama terakhir yang masuk bursa Michael Laudrup pun tidak bisa dipandang sebelah mata, walaupun karir kepelatihannya masih termasuk baru namun kepiawaiannya dalam menukangi Getafe layak diacungi jempol, terbukti dengan kesuksesan klub tersebut menjadi kuda hitam di kompetisi UEFA dan liga Spanyol tahun ini.

Dari segi pemain pun yang menurut saya pribadi harus dipertahankan hanya Cech, Terry, dan Joe Cole, diluar dari ketiga nama tersebut silakan dilepas. Drogba yang semakin tidak kerasan, Shevchenko yang kurang mampu beradaptasi dengan kultur sepakbola Inggris, Pizzaro, Wright Phillips, Malouda silakan angkat koper. Lini tengah pun harus memilih salah satu diantara Lampard atau Ballack, atau sekalian extreme melego kedua-duanya dan menggantinya dengan playmaker baru hehehehe.

Pemain-pemain yang dirumorkan akan masuk juga bermacam-macam, dari David Villa, Quaresma, Kaka, Messi, Dos Santos, hingga Ibrahimovic. Bagi saya target yang cukup realistis mungkin adalah Villa, Quaresma dan Dos Santos, namun dengan kegagalan AC Milan menembus 4 besar liga Italia yang membuatnya hanya berlaga di piala UEFA musim depan plus kekuatan uang Abramovic yang no limit menjadikan target untuk mendatangkan Kaka juga cukup realistis. Sejauh ini satu-satunya pemain yang sudah berhasil diikat adalah Jose Bosingwa bek kanan Porto yang sepertinya diproyeksikan untuk menggantikan Ferreira atau Beletti.

Buat saya sih, siapapun yang datang tidak masalah, yang penting dan krusial bagi masa depan The Blues sekarang ini adalah sosok pelatih yang mumpuni, secara taktik hebat dan berkharisma di depan pemainnya serta mampu menghadapi pers. Gue sih maunya Michael Laudrup yang terpilih hahahahahaha, tapi que sera sera lah. Viva True Blue!!!

Label:

Minggu, 18 Mei 2008

WR10 VS CR7



















Musim sepakbola di Eropa satu persatu mulai berakhir, dan yang teranyar kemarin Liga Italia juga menutup season 07/08 dengan mencatatkan Inter Milan sebagai juaranya. Satu hal yang menarik dari persaingan liga-liga besar Eropa tahun ini adalah rivalitas yang terus panas hingga pertandingan terakhir, seperti yang terjadi di Liga Inggris, Italia, dan Perancis.

Di Inggris sendiri Chelsea akhirnya harus mengakui keunggulan Manchester United. Pada pekan terakhir terbukti setan merah mampu menunjukkan mental juaranya, bertandang ke JJB Stadium markas dari Wigan CR7 dan kawan-kawan berhasil mengemas 3 angka. Sementara itu Chelsea yang mendapat kesempatan berlaga di Stamford Bridge malah harus gigit jari saat gawang Cech dijebol di menit-menit akhir pertandingan, yang berimbas kepada hasil seri yang otomatis mengukuhkan Manchester United sebagai yang terbaik di Inggris tahun ini.

Menyikapi munculnya Manchester United sebagai juara, orang-orang ramai membicarakan kepiawaian CR7 dan rekor gol fantastisnya sebagai alasan utama kedigdayaan setan merah musim ini. Namun saya tidak terlalu setuju dengan pandangan tersebut.

Memang tidak bisa disangkal bahwa penampilan Ronaldo tahun ini sangat luar biasa, tapi bagi saya pribadi kualitas mentalnya belum bisa dijadikan sebagai sandaran saat setan merah berlaga di laga-laga penting. Terbukti di beberapa pertandingan yang menentukan di musim ini CR7 tidak bisa mengeluarkan kemampuan terbaiknya, berbanding terbalik saat dia tampil dengan begitu trengginas saat melibas tim-tim kecil dan medioker.

Dalam pandangan saya malah Van De Sar, Carrick, dan Rooney adalah figur terpenting di kubu Manchester United saat ini. Rooney bagi saya adalah pemain yang lebih baik dan lebih komplit, intelegensia pemain yang kerap dijuluki Shrek ini terlihat begitu menonjol, pilihan skill tendangannya pun beragam, kaki kanan terarah, kaki kiri yang keras, kadang-kadang dengan dribble, keseimbangan tubuhnya pun istimewa, tidak mudah terjatuh saat terjadi benturan, teknik lob nya pun seringkali membuat kiper mati langkah, permainan passingnya juga kerap mengejutkan, plus karakter pantang menyerah khas Inggris. Namun sepertinya hal tersebut kalah mengkilap dengan tusukan-tusukan berkecepatan tinggi dan tendangan bebas Ronaldo.

Menanggapi rumor Real Madrid yang menginginkan kapten Portugal tersebut untuk bergabung bersama Los Galaticcos dengan harga sensasional 1,4 triliun juga tidak terlalu membuat saya khawatir. Sebagai seorang pecinta MU, saya akan jauh lebih takut kalau ada rumor yang mengatakan bahwa Rooney atau Carrick akan pindah, karena saya berkeyakinan penuh bahwa dominasi MU di tahun-tahun ke depan seharusnya dibangun dengan berpusat pada Rooney dan Carrick. Memang dengan adanya kecepatan dan kreativitas Ronaldo pastinya akan menjadi suplemen super yang membuat penampilan setan merah semakin mengkilap, tapi jika seandainya ia hengkang pun saya tidak melihat ada hal yang perlu dikhawatirkan.

Yah tapi ini cuma pendapat saya doang sih, apapun keputusannya dan ke arah mana MU melangkah di musim depan, pastinya eyang Alex Ferguson sudah mempertimbangkannya masak-masak, so maju terus Setan Merah!

Label:

Minggu, 30 Maret 2008

4-0
















Bila ada yang bertanya, tim mana yang menurut gue paling pantas meraih gelar juara liga inggris tahun ini? Tanpa perlu berpikir 2 kali gue akan menjawab MU!!! Konsistensi permainan baik secara kolektif maupun secara individu mereka musim ini benar-benar patut diacungi jempol.

Kedigdayaan mereka kembali dibuktikan Minggu dini hari kemarin saat Martin O’Neill dan Aston Villa datang melawat ke Old Trafford. Bermain di tengah guyuran hujan selama babak kedua juga tidak menjadi halangan berarti bagi mereka, alur bola dari lini ke lini tetap mengalir dengan lancar, padahal tahu sendiri sulitnya melakukan permainan operan pendek dan cepat saat hujan karena kondisi lapangan yang basah akan mengurangi laju bola.

Tampil menyerang dari awal pertandingan, gol pertama dicetak oleh CR7 dengan menggunakan tumit saat terjadi kemelut di depan gawang Aston Villa, setelah itu Carlos Tevez menyusul merobek jala Scott Carson dengan sundulan kepalanya. Wayne Rooney yang bermain gemilang pada pertandingan kemarin akhirnya mencetak gol ke-3 setelah berhasil dengan cantiknya mengelabui kiper Villa yang kemudian disusul dengan gol ke-4, dan di akhir pertandingan hampir saja Rooney mencetak hattrick jika golnya tidak dianulir karena terjebak offside.

Melihat tren permainan MU saat ini, potensi untuk meraih gelar liga sekaligus berjaya di Champions menjadi sangat mungkin. Bila saja tidak dirudung nasib malang saat menjamu Portsmouth pada lanjutan piala FA silam, bukan tidak mungkin sejarah musim 98/99 bisa terulang lagi. Bravo Red Devil and maap yak opa Fergie karena gue udah pernah meragukan dirimu karena emoh lengser...=P

Label:

Selasa, 18 Maret 2008

Come On England












Persaingan menuju tangga juara Liga Inggris, semakin seru! Dengan perolehan poin yang berbeda tipis diantara The Big Three menjadikan pintu juara masih terbuka untuk siapa saja. Dan hebatnya ketiga tim tersebut juga masih berpeluang untuk merebut trophy Liga Champions di saat yang bersamaan.

Permainan impresif dari The Young Guns Arsenal sempat membuat gue kepincut di awal musim, pergerakan Fabregas yang semakin trengginas, Van Persie dan Adebayor yang semakin tajam, Rosicky dan Hleb yang selalu siap memberi kejutan dari lini kedua serta kepemimpinan Gallas di baris pertahanan membuat permainan mereka begitu hidup. Ketidakhadiran King Henry yang sempat menjadi andalan mereka sudah hampir tidak terasa, satu lagi bukti dari kejeniusan Monsieur Arsene Wenger.

Setan Merah juga tidak kalah hebatnya, bahkan anak-anak Old Trafford telah berhasil menyalip Arsenal dan menduduki puncak klasemen saat ini. Memasuki musim 2007/2008 sebagai tim Inggris dengan pembelanjaan terbesar membuat banyak pihak meyakini bahwa tahun ini akan kembali menjadi tahunnya mereka. Masuknya Nani, kompatriot CR7 di Portugal semakin menambah variasi serangan sayap, Anderson yang semakin lama semakin menunjukkan performa terbaiknya juga sudah siap menggantikan peran Scholes, Rooney Tevez yang semakin padu dan ketajaman Ronaldo yang semakin menjadi-jadi membuat The Red Devils begitu menakutkan. Jangan lupakan juga Carrick yang menjadi dirigen permainan, Rio Ferdinand dan Vidic yang membentuk sebuah duo bek tengah terbaik di dunia saat ini serta Van De Sar yang belum kehilangan kepiawaiannya sedikitpun di bawah mistar. Tidak berlebihan bila di akhir musim nanti Sir Alex dan timnya akan kembali menjadi penguasa Inggris dan bahkan Eropa.

Di tempat ketiga, mengendap-ngendap dan siap untuk menerkam adalah anak-anak dari Stamford Bridge. Memulai musim dengan pembelian yang termasuk humble untuk tim seukuran mereka, Chelsea melaju dengan terseok-seok. Shevchenko yang seperti lupa cara bermain bola, Ballack Lampard yang seperti air dan minyak bila dimainkan bersama, serta strategi ”yang penting menang” yang diterapkan oleh Jose Mourinho membuat gerah Abrahamovic. Kabar mengejutkan akhirnya muncul di awal musim dengan pengunduran diri Jose Mourinho dari kursi kepelatihan. Setelah banyak nama yang beredar sebagai penggantinya, manajemen kemudian menunjuk Avram Grant menjadi pelatih. Pro dan kontra bermunculan dengan ditunjuknya seorang pelatih yang belum terbukti kualitasnya untuk menukangi tim bertabur bintang seperti The Blues, dan awal yang buruk saat bertandang ke Old Trafford dan menelan kekalahan 2-0 semakin memperberat langkah Avram Grant.

Namun selepas itu keadaan mulai berangsur-angsur membaik, masuknya Hank Ten Cate juga sempat menyuntikkan aura sepakbola menyerang yang diidam-idamkan oleh Abrahamovic. Tapi apa mau dikata, tunggu punya tunggu permainan The Blues saat ini masih monoton dan membosankan. Hasil positif yang sempat diraih menjadikan issue ini memudar sesaat, tapi saat Avram Grant menurunkan starting line up aneh dengan menempatkan Anelka di sayap kiri dan membangkucadangkan Joe Cole di final Piala Carling yang berujung pada kekalahan Chelsea dari Hotspur, kursi Avram Grant kembali digoyang. Banyak bintang yang mengancam akan hengkang bila Grant masih duduk di kursi pelatih musim depan, dan Abrahamovic sendiri juga sudah punya rencana untuk melakukan revolusi dengan membuang 10 pemain yang dianggap tidak pantas berseragam biru.

Secara pribadi sebagai pendukung The Blues gue setuju sekali kalo Avram Grant ditendang apapun hasil akhir musim ini. Mau melakukan revolusi boleh-boleh saja selama itu dipikirkan secara matang dan bukan emosi sesaat saja karena frustasi melihat permainan yang tidak kunjung membaik. Line up yang ada sekarang menurut gue juga udah lebih dari cukup, dengan ingin hengkangnya Drogba gue sih pengen banget Chelsea beli Huntelaar lalu bersama Joe Cole dan Salomon Kalou membentuk trisula yang mematikan, di tengah Lampard tetap dipertahankan sebagai jendral dengan Mikel dan Essien sebagai katalisator, di lini belakang Terry Carvalho Beletti Cole juga sudah cukup solid dengan kiper terbaik dunia Peter Cech di bawah mistar. Secara materi Chelsea sebenarnya sudah lengkap, yang diperlukan sekarang adalah seorang pelatih yang bisa menyuntikkan sebuah metode permainan menyerang yang ciamik sekaligus mematikan, siapa ya orangnya? Yah tapi sekali lagi inikan celotehan gue doang yang tipikal orang Indonesia, jagonya ngomentarin doang hahahahahaha...=D

Label:

Kamis, 03 Januari 2008

Ginola Sepakbola


















Bukan David Beckham, bukan Ronaldo, bukan pula Maradonna yang membuat saya jatuh cinta kepada sepakbola. Melainkan seorang berkebangsaan Perancis, sayap kiri bertalenta tinggi yang anehnya sama seperti Cantona, tidak pernah dilirik timnas. Seorang punggawa Newcastle United saat jaman kepelatihan Kevin Keegan, bernomor punggung 14. David Ginola.

Saya bisa dibilang adalah orang yang terlambat menyukai sepakbola, saat masih di SD saya tidak tertarik sama sekali dengan olahraga. Satu-satunya bentuk olahraga yang saya lakukan saat itu adalah saat bermain lompat karet bersama anak-anak perempuan hahaha. Saat di SMP pun saya lebih memilih bermain basket daripada sepakbola, slam dunk spektakuler pada saat itu lebih memukau saya daripada sebuah tendangan salto yang merobek jala lawan.

Namun suatu ketika, saya lupa tepatnya kapan namun yang pasti saat itu saya masih SMP. Karena sesuatu hal saya tidak bisa tidur malam itu, segala upaya untuk memejamkan mata telah saya coba, namun semuanya gagal. Akhirnya saya memutuskan untuk keluar saja ke ruang tamu dan menonton TV, yah walaupun sudah tengah malam siapa tau ada operator TV yang tidak bisa terlelap juga dan memutuskan memutar film box office di TV hahahaha.

Saya nyalakan TV, semua stasiun telah menyiarkan siaran semut kecuali SCTV kalau tidak salah pada saat itu sedang menyiarkan siaran lansung piala UEFA antara Newcastle melawan klub yang saya lupa namanya. Pertamanya saya malas untuk menontonnya, tapi karena saat itu tidak ada pilihan lain ya sudahlah pikir saya.

Semakin saya menonton, semakin saya tertarik pada permainan ini, wah seru juga ya melihat bagaimana sebuah serangan dibangun, variasi dari sayap atau lansung menusuk ke tengah, memakai umpan pendek atau lansung umpan panjang, belum lagi drama-drama dari pelanggaran yang terjadi, wah seru juga nih pikir saya saat itu.

Lalu tibalah saat-saat bersejarah itu, dimulai dari sebuah counter attack Newcastle bola akhirnya diumpan lambung dari sisi kiri ke batas kotak pinalti di sisi kanan jauh. Tiba-tiba saja seorang pemain bernomer punggung 14 berada disana. Dengan posisi badan membelakangi gawang, dia menerima bola dan mengontrolnya dengan dada, lalu dengan pahanya sebelum dia mencungkil bola dengan ujung kakinya untuk memberi waktu baginya untuk memutar badannya lalu dengan satu tarikan napas dia melepaskan tendangan first time yang tidak dapat diantisipasi oleh penjaga gawang lawan. Semua ini dia lakukan, tanpa bola menyentuh tanah sekalipun. Luar Biasa!

Saya terperangah pada saat itu, My God itu bener-bener super keren! Kemudian pertandingan tersebut berakhir dengan kedudukan 4-1 kalau saya tidak salah ingat untuk kemenangan Newcastle. Mulai saat itulah kecintaan saya kepada sepakbola tumbuh dan mengakar hahahaha. Walaupun pada akhirnya saya menjadi pendukung MU dan Chelsea, Newcastle dengan David Ginolanya tidak akan pernah saya lupa…=)

Label:

Selasa, 25 Desember 2007

Sanctus


Label:

His Airness




















"There's Michael Jordan and then there is the rest of us." Magic Johnson

Michael Jordan's basketball talent was clear from his rookie season. In his first game in Madison Square Garden against the New York Knicks, Jordan received a prolonged standing ovation, a rarity for a player in an opposing team's arena. After Jordan scored a playoff record 63 points against the Boston Celtics in 1986, Celtics star Larry Bird described him as "God disguised as Michael Jordan."

Jordan led the NBA in scoring in 10 seasons (NBA record) and tied Wilt Chamberlain's record of seven consecutive scoring titles. He was also a fixture on the NBA All-Defensive First Team, making the roster nine times (NBA record). Jordan also holds the top career and playoff scoring averages of 30.1 and 33.4 points per game, respectively. By 1998, the season of his Finals-winning shot against the Jazz, he was well known throughout the league as a clutch performer. In the regular season, Jordan was the Bulls' primary threat in the final seconds of a close game and in the playoffs, Jordan would always demand the ball at crunch time. Jordan's total of 5,987 points in the playoffs is the highest in NBA history. He retired with 32,292 points, placing him third on the NBA's all-time scoring list behind Kareem Abdul-Jabbar and Karl Malone.
With five regular-season MVPs, six Finals MVPs (NBA record), and three All-Star MVPs, Jordan is the most decorated player ever to play in the NBA. Jordan finished among the top three in regular-season MVP voting a record 10 times, and was named one of the 50 Greatest Players in NBA History in 1996.

Many of Jordan's contemporaries label Jordan as the greatest men's basketball player of all time. An ESPN survey of journalists, athletes and other sports figures ranked Jordan the greatest North American athlete of the 20th century, above icons such as Babe Ruth and Muhammad Ali. Jordan placed second to Babe Ruth in the Associated Press's list of 20th century athletes. Jordan has also appeared on the front cover of Sports Illustrated a record 49 times. He also was named the greatest athlete of all-time in the 50th anniversary issue of Sport magazine in 1997.

Jordan's athletic leaping ability, highlighted in his back-to-back slam dunk contest championships in 1987 and 1988, is credited by many with having influenced a generation of young players. Several current NBA All-Stars have stated that they considered Jordan their role model while growing up, including LeBron James and Dwyane Wade. In addition, commentators have dubbed a number of next-generation players "the next Michael Jordan" upon their entry to the NBA, including Grant Hill, Kobe Bryant, LeBron James, Vince Carter, and Dwyane Wade. Although Jordan was a well-rounded player, his "Air Jordan" image is also often credited with inadvertently decreasing the jump shooting skills, defense, and fundamentals of young players, a fact which Jordan himself has lamented.Although Jordan has done much to increase the status of the game, some of his impact on the game's popularity in America appears to be fleeting. Television ratings in particular increased only during his time in the league and have subsequently lowered each time he left the game.

Label:

The Great Jersey 23


















“Now I believe a man can fly!”

Temen gue Fernando pernah cerita, kalo anak didik basketnya sama sekali gak tau yang namanya Michael Jordan. Pertama kali denger gue agak shock sih, hah main basket tapi ngak tau Michael Jordan, ngak salah? Basketball is Michael Jordan and Michael Jordan is Basketball!

Tapi setelah gue piker-pikir sih wajar lah, karena rata-rata umur anak didik si Edo kan kelahiran tahun 90an, waktu masa jayanya Jordan dia masih balita, terang aja ngak tau! Alhasil mereka tergila-gila sama yang namanya Kobe Bryant dan Lebron James. Yah ok sih kedua pebasket itu, tapi kalo dibandingkan sama papa Jordan seujung kukunya juga gak ada(ini subyektif nih, kalo ada yang gak setuju, emangnya gue pikirin hehehehehe).

Gue paling inget waktu final NBA antara Bulls lawan Jazz musim 96/97 sama 97/98, man itu tuh 2 final paling seru dalam sejarah NBA! Malone Stockton versus Jordan. Waktu itu game 1, Bulls lagi ketinggalan 1 poin, waktu udah mau abis dan Malone terkena foul dan berhak atas 2 free throw yang bisa bikin margin angka jadi 3 poin, perlu diinget presentase free throw Karl Malone adalah di atas 75%, alias jitu. Free throw pertama gagal, kemudian free throw kedua ajaibnya juga gagal, bola di rebound oleh Rodman dan meminta time out. Dengan in bound dari tengah lapangan, Jordan meminta bola, mendribblenya dengan mendapat penjagaan ketat dari Byron Rusell, tapi dengan sisa waktu 3 detik Jordan melakukan fake step yang membuatnya lepas dari kawalan, dan menembak bersamaan dengan bunyi buzzer, bola melengkung dengan indah dan masuk mulus ke dalam keranjang, Bulls menang!

Itu Cuma 1 dari sekian banyak momen bersejarah yang dilakuin ama Jordan, kayaknya tuh orang mentalnya terbuat dari baja lapis dua kali ya. Kayaknya dia memang menantikan saat-saat krusial seperti contoh di atas, mengambil tanggung jawab, dan mengendalikan keadaan, a superb athelete.

Yah singkat cerita, akhirnya si Edo ngak tahan juga anak didiknya gak kenal sama Michael Jordan. Terus dikasi liatlah DVD Michael Jordan His Airness, walhasil kayaknya mereka sudah lupa tuh sama Kobe dan Lebron….=)

Label: