Tenario's Gospel

Rabu, 04 Maret 2009

Nyok Nonton Bioskop!!!



















Semalem gue pergi nonton film Marley & Me, tapi kalau elo berpikir dan berharap bahwa tulisan gue kali ini akan ngasih elo referensi tentang film itu, well sebaiknya elo berhenti membaca sekarang.

Walaupun Marley & Me turns out to be a great movie and connect with me at every level, tapi yang pengen gue ceritain sekarang adalah sebuah koneksi yang jauh lebih special daripada itu. It’s about my relationship dengan bioskop…=)

Menurut cerita bokap nyokap gue sih pertama kali gue pergi ke bioskop adalah saat gue berumur 1,5 tahun. Waktu itu gue diajak ke bioskop Candra yang ada di bilangan Glodok Kota dan filmnya waktu itu adalah Muppet. Khawatir kalo gue bakal rewel, alkisah sepanjang film gue dicekokin sama makanan dan minuman sampe akhirnya gue jackpot. Padahal kalo dikenang lagi, kata nyokap sih gue anteng-anteng aja sepanjang film, enggak nangis, enggak minta keluar, enggak jalan-jalan gak karuan di sepanjang tangga, gue tenang dan enjoy as if me and cinema is a match made in heaven.

Since we are set off on the right foot, sejak saat itu me and bioskop become an item. It’s my holy ground, the second home. Sebelum jaringan bioskop 21 yang dibawa oleh PT. Subentra merajai dunia perbioskopan di Indonesia, hari-hari menonton gue dihabiskan di bioskop-bioskop seperti Pluit Plaza, Liberty, dan Angkasa. Karcisnya masih sobekan, n kadang-kadang kalo filmnya super laku, jumlah tiket yang dijual bisa enggak sesuai dengan kuota tempat duduk, walhasil ada yang duduk di tangga yang dipake buat jalan deh. Iklannya waktu itu masih biscuit Roma versi orang sakit dan manjat gunung hahahahaha.

Tempat duduknya pun tidak senyaman sekarang, mulai dari yang tempat duduk agak nyaman sampe yang cuma bangku plastik kayak di terminal bis luar kota sudah pernah gue cobain. Waktu dulu juga belum dikenal yang namanya milih tempat duduk, jadinya ya bisa ditebak, siapa cepat dia dapat. Tapi seramai, sekotor, dan sekatro apapun tempatnya, bioskop-bioskop tersebut tidak pernah membuat gue kehilangan antusiasme. Waktu itu gue gak perduli, semua film gue libas, dari Saur Sepuh, Catatan si Boy, Makelar Kodok, Kanan Kiri OK, Ratapan Anak Tiri, film barat, film mandarin, film India, bring it on.

Terus tahun 90 gue pindah ke Tangerang, karena bokap waktu itu pindah tempat kerjaan. Saat itu di Tangerang cuma ada 4 bioskop yang cukup masyur. 2 namanya Cimone dan Cisadane Theatre, spesialisasinya adalah film Barat, 1 namanya Mega, kalau yang ini khusus film Mandarin sama kadang-kadang laga Indonesia, dan yang 1 lagi namanya Bhumyamca biasa disebut Bumek, filmnya mirip Mega cuma agak ketinggalan buat film mandarinnya tapi hal tersebut diimbangi dengan stok film India-nya yang terup-date selalu hahaha. Waktu itu nonton bioskop adalah agenda wajib paling tidak seminggu sekali antara gue sama bokap, dengan sebelum atau sesudahnya dilengkapi oleh kunjungan ke tukang kwetiau goreng langganan, such a happy time those days.

Kalo gue gak salah inget, jaringan 21 itu masuk Tangerang pertama kali adalah saat gue SMP, Modernland 21 adalah yang pertama kala itu, harga tiketnya 5000 rupiah. Dibandingkan dengan uang jajan yang masih 1500/hari waktu itu, jelas nonton bioskop adalah sebuah kegiatan yang cukup mewah buat gue. Tapi somehow tiap minggu gue bisa nabung dan di hari sabtu sore gue bakal berangkat sendirian naik angkot menuju Modernland 21 buat membarter tabungan gue dengan 90 menit keajaiban yang ditawarkan oleh gulungan pita seluloid tersebut.

Di kala liburan sekolah, kebanyakan waktu gue akan dihabiskan di rumah nenek gue di Tanah Abang 5. Tempat yang strategis, karena hanya dengan berjalan keluar gang dan naik mikrolet M08 jurusan Tanah Abang – Kota, gue bisa menemukan banyak sekali bioskop, ada Gajah Mada 21, Krekot 21, Globe 21, Mandala 21, Jayakarta 21, Glodok Sky 21, dan juga Plaza 21. Sayangnya perlahan seiring berjalannya waktu bioskop-bioskop tersebut berguguran hingga sekarang yang tersisa hanya Gajah Mada 21.

Saat ini puji Tuhan menonton bukanlah sebuah kegiatan mewah buat gue (kecuali nonton di Premiere atau Blitz Velvet Class…=P). Antusiasme gue di saat gue melibas semua jenis film pun masih sama hingga sekarang. Walaupun sekarang bila mampu kita bisa membangun sebuah home theatre yang state of the art di rumah kita, tetap saja hal tersebut tidak akan pernah bisa menggantikan posisi bioskop di hati gue, I love every part of it.

I love checking the movie schedule on newspaper or internet, I love the journey that I have to take to reach the Cineplex, I love the ticket queue, I love the feel of the ticket on my hand, I love the smell of the popcorn, I love the rip off your wallet cafeteria, I love the Kenny G compilation playing over and over again, I love the sound of Maria Oentoe calling all the spectators, I love looking for my seat, I love watching the coming soon movie trailer, I love the THX or Dolby commercial, I love the “Lulus Sensor” sign, I love when the lights slowly but sure turn off, I love the beginning, the middle, and the end of the movie, I love check your belongings before you leaving sign right at the end of the movie, I love walking toward that exit sign, I love walking trough the exit tunnel, and I love doing all that things again and again and again…

Label:

Sabtu, 31 Januari 2009

Bangkok Cinema Paradiso
















When in Rome, do as the Romans do! Pernah denger enggak idiom ini? Nah karena terngiang-ngiang oleh idiom inilah akhirnya gue memutuskan bahwa sebagai orang yang hobi utamanya nonton, enggak lengkap rasanya kalo gue ke Bangkok tapi enggak ngerasain bagaimana rasanya nonton bioskop di sana.

Yo wis, rencana ini bermula dari poster gede film Red Cliff 2 yang udah dipasang dimana-mana waktu itu di Bangkok. Nah berhubung gue nonton Red Cliff 1 dan penasaran banget sama kelanjutannya, gue niatin deh buat nonton film itu di Bangkok saja. Kan bahasanya mandarin pasti ada teks inggrisnya, jadi aman, enggak bakal bengong gue di combo sama oral mandarin dan teks Thailand hehehehehe.

Hari itu adalah hari ke 3 gue di Bangkok, keluar dari hotel jam 12-an dan menuju ke stasiun BTS, lalu beli tiket ke National Stadium. Nah stasiun National Stadium ini nyambung sama pusat perbelanjaan yang namanya MBK, kalau disini itu tuh Mangga Duanya lah. Begitu nyampe lansung bergerak mencari tempat makan, laper banget belum sarapan dari pagi, abisnya hostel tempat gue tinggal menu sarapannya monoton banget, telur mata sapi, sosis, nasi goreng, cereal, yoghurt, gituuuuuuuu aja tiap hari.

Nah akhirnya gue ketemu sama satu restoran yang unik juga desain interiornya, ala-ala Amrik tahun 60-an 70-an gitu deh, terus lagu yang diputer juga lagu-lagu Connie Francis, Nat King Cole, dan teman-teman almamaternya. Miriplah sama restoran Hot Shots yang ada di PIM 2 dan Senayan City kira-kira. Tapi ternyata desain Amriknya cuma gimmick doang, menu makanannya kaga ada Amrik-Amriknya, udah gitu semua pelayannya juga kaga ada yang bisa ngomong inggris, seperti biasa hahahahahaha.

Setelah bolak-balik menu cukup lama akhirnya gue memutuskan buat nyobain Tom Yum Goong n minum English Tea (enggak nyambung banget yak hahahahaha). Nunggu tidak begitu lama akhirnya muncul juga tuh makanan, yah secara rasa sih cukup mak nyuss, asem pedes seger n udangnya gede-gede. Yang sedikit bikin kesel adalah, pas mesen desert gue liat di gambar menu sepertinya sup ubi manis, lalu gue tanya sama pelayannya, “Is this sweet potato?” sambil nunjuk ke sang gambar, lalu dia liat gambar yang gue tunjuk, terus liat ke gua, n bilang, “Yes!!!” Ya udah gue pesen deh 1 mangkok. Eh udah ngebayangin enaknya makan sup ubi manis setelah makan Tom Yum Goong yang pedes asem itu, gak taunya pas dateng gambar kotak-kotak orange yang ada di menu itu ternyata bukan ubi tapi melon, huuu=(

Abis kenyang makan baru deh gue naik ke lantai paling atas tempat si bioskop itu berada. Tapi selidik punya selidik film Red Cliff 2 ternyata belum ditayangin alias masih jatahnya coming soon, yah lagi-lagi kecewa. Tapi udah kadung disana yaudah deh gue memutuskan nonton film Thailand aja sekalian, toh ada teks inggrisnya. Pilih-pilih sambil baca sinopsis yang ada di layar akhirnya gue milih film yang judulnya 4 Romance, cerita kompilasi 4 kisah cinta gitu deh.

Tiketnya sendiri harganya 100 Bath, berarti kira-kira 30 ribu uang sini lah. Abis beli tiket lansung menuju ke studionya, sebelum masuk ke area studio ternyata kita dicegat dulu sama 2 petugas, yang 1 meriksa tiket yang 1 meriksa tas gue. Selesai inspeksi akhirnya gue boleh masuk, Horeeee!!! Sampe di dalem, wah ini mah mirip-mirip bioskop MPX Grande di bilangan Blok M yang sudah sedikit renta dan out of date, tempat duduknya juga sempit dengan sedikit bau yang tidak begitu sedap, wah first impression yang kurang baik. Padahal konon bioskop di MBK ini adalah salah satu bioskop yang cukup elite.

Terus di Thailand itu yang namanya ekstra dan iklan sebelum film dimulai itu panjangnya bisa mencapai 20 menit, jadi buat orang-orang yang enggak bisa on time dan suka telat kalo nonton mendingan elo-elo pada migrasi aja ke Thailand hehehehe. Abis selesai jatah ekstra dan sponsor, lampu dipadamkan wah indikasi film mau mulai neh, tapi tunggu dulu….

Tau-tau di layar tertulis himbauan buat berdiri guna memberi penghormatan buat sang raja, kayak kalau kita nonton di bioskop pas 17 Agustus gitu deh, tapi bedanya kalo disitu kayaknya tiap mau nonton mesti kasih penghormatan. Abis itu diputarlah film tentang si raja Thailand yang begitu dihormati rakyatnya ini, mulai dari kecil, merit, pentasbihan, lalu hasil-hasil kerjanya, lengkap dengan musik yang menyayat hati. Itu orang yang nyiptain tuh footage dan musik perlu dikasih dua acungan jempol, gue aja yang enggak ngerti bahasanya n enggak kenal sama rajanya sampe bisa ikut terharu dan berkaca-kaca, Canggih!!!

Overall sih film yang gue tonton sampah, picisan, tapi lumayan asik juga pengalaman nonton bioskop di negeri orang. Yah walaupun secara kemajuan pembangunan kita masih kalah, tapi kalo untuk urusan mutu bioskop bolehlah kita berbesar hati dengan jaringan XXI dan Blitz Megaplex yang kita punya hehehehe.

Label:

Senin, 12 Januari 2009

Chatuchak Shopping Frenzy















Menyambung tulisan mengenai kunjungan gue ke Thailand gak afdol rasanya kalo tidak menyebutkan tempat wisata yang satu ini. Pasar kaget yang terletak dekat dengan sebuah taman public dan tidak jauh dari terminal bis ini adalah surga bagi siapa saja yang mencintai kegiatan belanja. Buat yang mengkeret keningnya dan masih memegang kepercayaan animisme belanja itu harus buang duit banyak, tenang dulu. Disini semua barang harganya miring, super murah!!! Tentunya lengkap dengan proses tawar-menawar, baik yang menggunakan bahasa inggris yang proper, atau bahasa Tarzan, atau hanya cukup dengan berbalas angka melalui layar kalkulator.

Karena kebetulan gue nginepnya deket banget sama stasiun MRT walhasil tidak terlalu susah bagi gue untuk mencapai tempat ini, walaupun jaraknya cukup jauh, nyaris dari ujung ke ujung lah. Biasanya sih daerah nginep turis itu tidak jauh-jauh dari Silom, Khao San, atau Sukhumvit. Nah kalo dari Silom dan Sukhumvit sih kita bisa naik BTS atau MRT karena emang lewat jalurnya, tapi kalau dari Khao San ini nih yang mesti sedikit usaha. Sok taunya gue sih kalau liat dari peta, yang paling masuk akal adalah dari Khao San naik taxi dulu ke Saphan Taksin BTS station, lalu terserah deh mau naik BTS atau mau nuker ke MRT di Sala Daeng station.

Waktu gue berwisata ke Chatuchak itu adalah hari ke-2 gue di Bangkok, jadi bangun pagi gue olah raga ringan sambil nonton Channel V dulu. Channel V bukan sembarang Channel V yang ada di hostel gue ini, Channel V yang ini muter lagu-lagu mandarin melulu hahahahahahaha. Abis mandi dan siap-siap, sekitar jam 10:30 gue melenggang keluar dari hotel, mau nyari sarapan dulu. Muter-muter akhirnya ketemu sebuah kios mie kecil yang cukup menggoda di bawah eskalator menuju stasiun. Gue mesen wonton noddle with crispy fried pork, di menu harganya tertulis 45 bath tapi pas gue ke kasir gue disuruh bayar 82 bath. Lengkapnya sih gue mesen itu dan sebotol minuman orange, kalo diitung-itung masa minumannya harganya 37 bath, GAK MUNGKIN!!! Tapi ya sudahlah kayaknya repot juga kalo minta penjelasan, bisa-bisa energi dari mie tadi kebuang percuma. Oiya just for the record mie-nya sediiiiiiiikkkkkkkiiiiiiittttttttttttt!

Perut udah keisi akhirnya gue menuju ke stasiun MRT Silom. Nah biasanya sebelum masuk ke area buat nunggu kereta kita bakal ketemu mesin buat beli tiket. Tinggal pilih bahasa terus pencet deh destinasi kita, nanti harga yang mesti dibayar akan muncul. Nah trickynya adalah ada destinasi yang namanya Chatuchak Park dan mayoritas first timer yang mau ke chatuchak market pasti memilih tujuan ini. Sebenernya sih enggak salah, tapi masih lumayan jauh dari pasar kagetnya kalau kita turun disana. Mestinya itu kita turun satu stasiun sesudah Chatuchak Park, yaitu stasiun Kamphaeng Phet yang exitnya lansung nyambung sama Chatuchak market. Biaya naik MRT juga enggak mahal menurut itung-itungan gue, dari tempat gue naik aja yang hampir di ujung cuma 41 bath (kurang lebih 13000 perak uang kita lah), udah cepet, praktis, nyaman, dan yang paling penting orang-orangnya beradab dan tau aturan hehehehehehe.

Begitu sampe di Chatuchak dijamin akan menjadi pengalaman yang tidak ada duanya, bagi para wanita mungkin bisa-bisa mengalami mental orgasm hahahahahaha. Almost everything that you can think of ada di sini, fashion check, furniture check, books check, accessories check, unnecessary things that you think you will never need it but looks cute check, food check. Pasar kaget yang cuma buka Sabtu dan Minggu ini luasnya minta ampun. Makanya enggak usah sok gaya kalau mau kesana, yang penting baju yang enggak bikin panas, sepatu atau alas kaki yang nyaman, sama duit yang banyak hehehehehe. Kalo males jalan pun disediakan mobil yang siap nganterin kita muter-muter, tapi menurut gue pribadi sih bego banget orang yang milih explore chatuchak naik mobil emangnya ini Taman Safari apa??!!!

Bagi yang hobi jajan juga jangan khawatir, disini hampir semua bentuk jajanan ada, dari yang biasa sampe yang nyeleneh. Yang paling bikin gue kaget adalah jajanan sosis yang dijual seharga 5 bath doang alias 1500 perak duit kita, dalam hati gue ngomong, “Nah ini dia nih sosis ngaco yang minggu kemarin gue tonton liputannya di Reportase Trans TV!” Disana gue sempet juga makan Pad Thai sebagai menu makan siang gue. Berbahan dasar kue tiau kurus, sayur-sayuran, ebi, plus daging n seafood, yang semuanya digoreng, makannya pake perasan jeruk nipis sama kacang tanah yang ditumbuk kasar. Enak juga sih. Oiya satu hal lagi yang gue perhatiin, kalo di Thailand n kita mesen minuman dingin yang pake es di kaki lima, mayoritas es-nya itu diserut, menyenangkan!!!

Total jendral dari Chatuchak gue bawa pulang 6 kaos, sama sekantong plastik gede cemilan. Tadinya gue mau beli mouse pad Doraemon, pertamanya masih menimbang-nimbang, tapi pas udah niat eh gue lupa tempatnya hehehehehe. Yah intinya sih kalo dikau-dikau mau berkunjung ke Bangkok, ini tempat tidak boleh dilewatin. Sebisa mungkin atur deh jadwal perjalanan supaya elo bisa ada di Bangkok pas Sabtu atau Minggu karena cuma di hari itu Chatuchak market ini buka. You won’t regret it, percaya kata engkoh… ;)

Oiya hampir lupa, satu lagi yang keren menurut gue adalah, kalau misalnya nih elo-elo kesana terus naksir sama barang-barang yang sifatnya fragile atau terlalu besar buat dibawa, tenang dan tidak perlu bingung lalu mengutuk letak negara kita yang jauh. Karena disana on the spot mereka menyediakan jasa pengiriman barang ke negara kita tercinta masing-masing. Canggih!!!

Label:

Minggu, 04 Januari 2009

Sawadee Ka














I'm back to Bangkok! Setelah kunjungan pertama di bulan Agustus kemarin, akhirnya gue mutusin buat go for a second date with Bangkok this January. Tiket udah gue beli jauh-jauh hari, dari pertengahan September lalu dengan pesawat Air Asia. Tadinya sempat ketar-ketir juga sih waktu tiba-tiba bandara Bangkok di ambil alih oleh pihak-pihak yang ingin agar perdana menteri Thailand turun, masih antek-anteknya Thaksin alasannya. Tetapi untunglah Tuhan masih berbaik hati mengizinkan keberangkatan gue berjalan mulus tanpa hambatan.

Tidak seperti keberangkatan pertama gue yang penuh drama, kali ini enggak ada ceritanya adu mulut sama petugas check in bandara, soalnya gue orang yang pertama check in hehehehehe. Kelar urusan check in terus ngurus fiskal deh, yang konon mulai 1 Januari 2009 udah gratis bagi WNI yang sudah punya NPWP. Ternyata bener lho, ada counternya sendiri lagi. Kita tinggal dateng ngasih kartu NPWP, lalu si petugasnya ngecek apa iya anak Cina ini udah terdaftar sebagai wajib pajak, terus di cap deh boarding passnya.

Selesai membuktikan sendiri mitos fiskal gratis, gue melenggang menuju bagian imigrasi, walaupun ramai tapi antriannya cuma sebentar kok, abis itu udah tinggal jalan santai menuju gerbang D4 dan menunggu keberangkatan, masih sempet ngintip Periplus dulu lagi dan nemu banyak buku yang pengen gue beli hmmmmm. Tepat pukul 10 pagi terdengar panggilan buat naik ke pesawat, wuih on time banget kali ini. Pas sampe di atas si burung almunium, ternyata krunya orang Thailand semua, abis itu penumpangnya dikiiiiittttt banget jadi bebas deh mau duduk dimana aja. Gue seperti biasa milih bangku yang nyaris belakang, karena menurut survei yang terpercaya kalau misalnya nih AMIT-AMIT KETOK KAYU JAUH-JAUH KE UJUNG LANGIT pesawatnya kenapa-kenapa, bagian buntut adalah yang paling besar kemungkinannya buat selamat hehehehehe.

Perjalanan udaranya sendiri memakan waktu sekitar 3 jam 10 menit, lama juga sih apalagi karena gue sendirian dan pesawatnya sepi jadi enggak ada yang bisa diajak bersilat lidah. Ya udah deh, berteman iPod dan buku biografi Bruce Lee saja. Jam 1 siang lewat 20 menit akhirnya gue menginjakkan kaki di tanah Thailand (oiya di Bangkok sama di Jakarta enggak ada perbedaan waktu, plek ketiplek sama), setelah di foto sama imigrasi dan diyakini kalo gue bukan salah satu buronan interpol akhirnya gue dipersilahkan mengambil bagasi, abis itu cao lansung ke pangkalan Taxi biar cepet nyampe hostel.

Kali ini nasib mempertemukan gue sama supir taxi yang namanya Mr. Kid (dibacanya Kits sama doi), bahasa inggrisnya super minim walhasil gue cape sendiri pas ngobrol sama dia, kebanyakan i don't know nya. Oiya 1 tips buat elo-elo yang mau ngobrol sama orang Thailand pake bahasa inggris, the golden rulenya adalah kaga usah mikirin grammar, yang ada jadi senjata makan tuan. Misalnya nih ya daripada elo ngomong, "So how long have you been working here?" mendingan elo bilang, "You,Work,Here,How Long?" atau daripada pas nawar barang elo bilang, "Come on Mister it's to expensive i can't afford that, can you lower it a little bit?" itu mah buang-buang energi sama waktu mendingan bilang, "Price, No Good, Discount More!" itu baru singkat, padat dan tepat guna hehehehehehe.

Kembali ke topik, akhirnya setelah berkendara selama kurang lebih 40 menit akhirnya sampai deh di hostel gue yang bernama Take a Nap, sebuah hostel kecil yang cukup strategis dan nyaman di Suriyawong Road, Silom District. Total biaya taxi, bayar tol 65 bath, fee bandara 50 bath dan argonya 217 bath, kalo dirupiahkan kira-kira 110 ribuan lah. Pas sampe lansung check in, taro tas, berbaring stretching-stretching sebentar, lansung kabur lagi.

Seperti biasa, kalo kita mau kemana-mana di Bangkok paling gampang ya naik BTS (Sky Train) atau MRT (Subway) n kebetulan stasiun BTS dan MRT-nya cuma sekitar 600 m dari hostel gue, STRATEGIS KAN??!!! Buat acara jalan-jalan di Bangkoknya akan gue sambung di post gue yang selanjutnya yak, to be continue biar ada aura-aura sinetron kejar tayangnya hehehehehehehe...=)

Label:

Kamis, 18 September 2008

Ibu-Ibuku Sayang, Ibu-Ibuku Malang



















Lagi enak-enaknya memacu Mojako (Motor Jepang Katro) gue di jalur searah yang lagi ramai lancar, tiba-tiba dari blind side gue nongol satu motor menyalip gue dengan kecepatan yang memprihatinkan. “Anjrit, sinting ni orang tipis banget!!!!” Selesai nyalip gue dia terus melaju di tengah-tengah jalan dengan kecepatan kayak nenek-nenek main sepatu roda (perbandingan yang aneh), membuat orang-orang di belakangnya keki soalnya udah pelan eh mau nyalip gak bisa. Selidik punya selidik gak taunya yang nyetir ibu-ibu. Yaaaaaaaahhhhhhhhhh……..

Bukan maksudnya meng-streotype-kan semua ibu-ibu sih, tapi emang ibu-ibu itu adalah spesies makhluk hidup yang sering ajaib dan kerap kali berbahaya dalam tanda kutip hehehehehe. Tanpa mengurangi rasa hormat gue kepada para wanita yang telah melahirkan kita-kita ini, yah memang begitulah kenyataannya yang gue temui, rasa ignorance-nya suka terlalu luar biasa mereka.

Yang paling sering kejadian sih waktu gue kondangan, ada-ada aja tindakan mereka yang bikin gue geleng-geleng kepala. Pernah suatu kali di sebuah hajatan yang cukup prestisius, gue dan orang-orang lain sedang mengantri bebek peking, karena merupakan salah satu menu yang lumayan andalan walhasil antriannya lumayan panjang.

Dari kejauhan gue liat seorang ibu-ibu dengan dandanan khas baju kinclong plus manik-manik dengan ukuran yang sedikit meletek datang tergopoh-gopoh. Dia ngeliat panjangnya antrian, lalu dengan penuh percaya diri mengambil jalur pintas masuk ke tempat para koki-koki memotong dan membagi-bagikan bebek peking yang juicy itu, lalu dengan santainya menyendok sendiri potongan-potongan daging bebek, keluar dari booth motong jalur antri tanpa permisi buat ngambil bumbunya lalu ngeloyor pergi dengan tampang yang sok tinggi hati setinggi sasakan rambutnya, PARAHHHH!!!!

Terus adalagi yang gak kalah kerennya, yang kali ini si ibu-ibunya membawa banyak anak. Nah keliatannya si ibu ini lumayan pemain lama dan professional di dunia per-kondang-an, terbukti beliau sudah datang setengah jam sebelum acara dimulai. Lalu melakukan acara browsing tenda-tenda apa saja yang tersedia disana dan menandai makanan-makanan apa saja yang dia suka.

Setengah jam kemudian, kedua mempelai memasuki ruangan pesta. Si ibu mulai mengumpulkan anak-anaknya dan melakukan briefing. Setiap anak memiliki tugas dan posnya masing-masing. Kedua mempelai telah sampai ke acara potong kue, para pegawai hotel telah siap sedia di depan tenda masing-masing, si ibu memandang tajam ke arah tenda-tenda tersebut dan dengan satu gerakan yang sigap memberi komando kepada anak-anaknya untuk memulai operasi makan enak mereka. Anak-anak bergegas menuju pos mereka masing-masing, berada di deretan paling depan dan siap menyendok makanan sebanyak-banyaknya. Setelah semua anggota merampungkan tugasnya, mereka semua berkumpul di titik temu dan membagi hasil operasi mereka. LUAR BIASA!!!!

Label:

Jumat, 01 Agustus 2008

Miss The Flight



















Akhirnya setelah menanti sekian lama jadi juga gue berangkat ke "The Land of Smile" Bangkok. Karena budget kantong orang kantoran yang pas-pasan, gue mesti nunggu berkat dari Yang Maha Kuasa buat bisa berangkat hehehehe. Untungnya tuh berkat diwujudkan juga dalam bentuk promosi Jakarta-Bangkok 0 rupiah dari Air Asia hohohoho.

Tapi memang pepatah easy come easy go itu berlaku banget di dunia kita yang fana ini hahahahaha. Karena pas hari H terjadi sebuah insiden yang gak cuma bikin gue shock tapi juga bikin kartu ATM gue termehek-mehek.

Jadi ceritanya itu flight gue itu tertera jam 10 pagi, nah gue sama Laila temen gue udah nyampe di bandara dari jam 8 pagi, sedangkan gue berangkatnya ber-4 dengan Noran plus Virna. Si Noran sama Virna karena sesuatu dan lain hal akhirnya nyampe di bandara itu jam 9:30 alias setengah jam sebelum berangkat. Gue ama Laila udah keringet jagung tuh nungguin mereka dateng, pas mereka nongol lansung deh kita serbu itu tempat konfimasi Air Asia. Tapi emang dasar maskapai terbang komersil alias murah, nyampe di depan loketnya eh dibilang wah sori udah gak bisa naik tuh, pesawatnya udah terbang hahahahahahahahaha BOONG BANGET!!!

Walaupun gue jarang-jarang pake pesawat, tapi belum ada tuh dalam sejarahnya dunia aviliasi, pesawat berangkat kecepetan yang ada mah mayoritas molor. Si Laila protes, dia bilang di layar informasi bandara tulisannya baru boarding bahkan belum final call, terus si embak-embaknya Air Asia yang enggak banget itu tanpa noleh sambil terus fokus ke komputernya (gue rasa sih tampangnya serius gitu, karena lagi buka kalo enggak Friendster atau Adult Friend Finder atau situs apapun yang buat nyari jodoh) bilang, "IYA ITU BOONG!" Hahahahahahaha sumpah kalo gak inget manner gue udah manjat tuh boothnya dia, terus ngegampar tu orang.

Gue sih gak akan keberatan kalo dia jujur aja dan bilang maap udah gak bisa karena waktunya gak akan kekejar yang pada akhirnya akan mengdelay keberangkatan pesawat. Gitu kan lebih sopan dan masuk akal, tetapi ya sudahlah. Lalu gue sama Laila berpikir kalo worst case scenarionya adalah kita akan ditransfer ke penerbangan selanjutnya, tetapi ternyata enggak saudara-saudara. Dari sisi lain muncul mas-mas yang gak kalah nyebelinnya (gue gak akan kaget kalo pada akhirnya si mas sama si mbak tadi akhirnya jadi jodoh) ngomong ya angus tiketnya....=(

Setelah itu kita menepi sebentar buat nenangin diri lalu mencari cara untuk melakukan damage control terhadap keadaan ini. Yah mau gak mau kita beli tiket deh buat flight selanjutnya, berjalan tergopoh-gopoh ke loket tiketnya ternyata ada flight buat jam 16:30. Ooooo terus seatnya masih ada mbak? Ada, masih ada 8 seat, kata si embak. Berapa harganya? Sebentar ya............................................................................ 1.650.000 rupiah. HAHAHAHAHAHAHAHA.

Caur banget deh, maksud hati mau irit naik pesawat yang 0 rupiah, malah mesti bayar tiket on the spot dengan harga selangit, tau kaya gitu mah gak usah cape-cape booking jauh-jauh hari, impulsif aja nongol di bandara hahahahaha. Tapi buat apa boleh lah, ya sudah akhirnya kita mencar deh masing-masing mengumpulkan dana dari sumber masing-masing. Terus balik ke loket tiket lagi, mbak beli 4 tiket deh. Oooooo sebentar ya....................................................... sekarang ratenya 1.750.000 rupiah HAHAHAHAHAHAHA, beda cuma sekitar 25 menit tu tiket udah naik harga, ampun ampun, kayaknya kurang doa nih pas mau berangkat.

Tapi ya sudahlah, yang namanya liburan itu kan buat seneng-seneng, bukan saatnya itung-itungan. Akhirnya sih kita ber-4 dengan suksesnya nyampe di Bangkok jam 8 malem. Buat pengalaman disana akan gue sambung di post gue selanjutnya yak...=)

Label:

Selasa, 08 April 2008

"Jonas Brothers" Legacy



















Kemaren gue mencetak milestone dalam hidup gue! Diawali dengan kedatangan Laila, temen kantor gue yang udah resign n memutuskan mau jadi spiritual traveler, kebetulan dia dimintai bantuan buat ngebrief penggantinya tentang scoop kerjaan yang udah pernah dia kerjain.

After office hour terus dia ada janjian sama temennya di Pacific Place buat makan, yah karena gue ngak ada kerjaan juga gue ngikut deh. Sampe disana akhirnya kita makan di restoran yang namanya pansius atau apa lah, lupa gue exactlynya, yang pasti itu resto spesialis pancake. Selesai makan kita nyari toko kaset, eh nemunya cuma ada counter musik kecil di lantai 4. Yo wis, “Mas ada CD Jonas Brothers ngak?” tanya gue, eh ternyata temen-temen gue udah ngeliat sambil nunjuk-nunjuk itu tuh. Diambilin ma mas-nya, nimbang-nimbang sebentar, inget-inget video klipnya sebentar yang bikin gue suka, terus memutuskan gue beli deh ni CD!!!

Nah itu adalah CD asli yang gue beli pertama kali seumur idup gue hahahahaha. Ya hidup di Indonesia yang dimanjakan dengan bajakan membuat gue ngak pernah membeli CD, VCD, atau DVD asli, bis jomplang banget sih harganya hahahahaha. Tapi pasti ada saat pertama untuk segalanya, dan gue mutusin album Jonas Brothers ini adalah tiang penjuru untuk CD-CD asli gue berikutnya, mudah-mudahan…=P

Sampe rumah gue puter tuh cakram musik, yah not as great as I expected sih tapi still a decent album in my opinion, personally gue lebih prefer album pertamanya Click Five sih, yang gue ada bajakannya hehehehe. Mungkin masalahnya karena track yang jumlahnya 16 itu 80% diisi dengan musik yang hampir serupa so sekilas kalo kita denger terus-terusan agak monoton aja sih, but what the hell deh udah keluarin 80.000 rupiah kuping gue bakal gue paksain buat suka hahahahahaha.

Label:

Minggu, 03 Februari 2008

Antara Tangerang dan Jakarta

Lagi-lagi Jakarta pesta air. Jumat kemarin tanggal 1 Februari 2007, Jakarta kembali lumpuh total akibat banjir yang mendera sebagai akibat dari hujan yang turun tidak berhenti semenjak Kamis malam. Ironis memang melihat sebuah kota metropolitan, pusat pemerintahan dari salah satu negara dengan populasi terbesar di dunia tiba-tiba mati suri, lumpuh tanpa bisa berbuat apa-apa hanya karena disiram hujan 1 malam.

Yang membuat tambah miris adalah pernyataan Gubernur Fauzi Bowo yang konon waktu kampanye menyebut dirinya sebagai ahlinya Jakarta yang menyatakan bahwa kita tinggal berdoa saja dan berharap kepada belas kasih alam. Dengan kata lain sang ahlinya Jakarta tidak punya agenda pemecahan dan solusi untuk permasalahan ini.

Kantor gue yang berada di daerah Thamrin pun tak luput diterjang banjir, di Sarinah genangan air mencapai lutut orang dewasa, lalu lintas macet total, bus Trans Jakarta pun tak bisa berbuat banyak karena tidak berani menerjang kepungan air. Bandara internasional Soekarno-Hatta, tolong dicatat INTERNASIONAL, shutdown karena aksesnya terhambat, banyak kapal yang ditunda keberangkatannya dan banyak yang harus berputar arah karena tidak mendapat ijin mendarat. Yang paling ngeyel adalah berita dari maskapai Adam Air yang menghanguskan semua tiket penumpang yang tidak bisa diberangkatkan, GILA!!!

Buat gue sendiri Jumat kemarin jadi sebuah petualangan, petualangan mencari jalan pulang ke Tangerang hehehe. Jam 4 sore kantor sudah kosong, orang-orang sudah berbondong-bondong pulang setelah melihat kondisi cuaca yang cukup kondusif. Akhirnya gue pun memutuskan buat nekad pulang dengan pikiran dengan kondisi jalan protokol yang sedang macet total, arah lalu-lintas ke Tangerang pasti akan lenggang, dan terbukti gue SALAH BESAR!!! Hahaha.

Setelah menyusun strategi, akhirnya gue mutusin buat naik Taxi lewat jalur alternatif sampe ke Lippo Karawaci n minta dijemput disana aja sama ade gue. Lalu-lintas yang tampaknya menjanjikan pada awalnya berubah 180 derajat saat gue nyampe di daerah Slipi yang mau menuju ke Kemanggisan. Setelah tidak bergerak sama sekali selama 40 menit akhirnya gue memutuskan untuk turun dan jalan kaki aja sampe pintu tol Kebon Jeruk, lumayan jauh sih jaraknya tapi ya sudahlah daripada stuck.

Kemudian gue memilih jalan kaki menyusuri jalan pinggir tol, tapi shit tiba-tiba gue ngeliat banyak kendaraan yang puter arah. Ngak taunya di depan ada genangan banjir yang cukup dalam sepanjang 300 meteran. Udah kadung disana akhirnya gue memilih untuk memanjat pagar jeruji pembatas tol dan merayap perlahan untuk melewati genangan air tersebut.

Lepas dari sana penderitaan belum berakhir, baru jalan kaki sejauh kira-kira 500 meter eh ada lagi banjir, yang kali ini lebih dalam n lebih panjang haaaaah=(. Udah terjebak di tengah-tengah situ gak ada pilihan lain selain maju terus, akhirnya gue terobos tuh banjir sambil jalan kaki dan ya Oloh ternyata berat cing apalagi kalo ada mobil lewat, kita mesti siapin kuda-kuda biar ngak kesapu sama air. Setelah jalan sekitar 500 meteran, celana yang digulung-gulung udah gak ada gunanya karena udah basah juga sepinggang.

Nah untungnya kemudian ada truk tim gegana yang lewat, tampaknya abis memberi bantuan kepada para korban banjir di daerah lain, akhirnya gue disuruh naik tuh (pas udah di atas gue baru notice, ras mongoloid sendirian gue hahahahahaha). Eh pas naik sendal gue copot sebelah, tapi ya sudahlah masa mau bela-belain sendal jepit sebelah doang. Ternyata lumayan jauh juga tuh tumpangan, dan akhirnya kita diturunin di daerah relasi Kebon Jeruk. Tapi emang dasar nasib lagi apes, pas turun payung yang gue bawa nyangkut dan tuh truk kan ngak berhenti total alias masih setengah jalan, alhasil jatoh terjerembab deh gue n hampir ketabrak sama truk gegana 1 lagi yang di belakangnya. Untung gue dibantuin sama 1 orang mas-mas yang baik hati namanya Ajo, kemudian setelah bangun dengan cenut-cenut di bagian bokong akhirnya gue ke warung sebentar buat beli sendal jepit, masa sampe Tangerang nyeker hahahaha sekalian juga mungut payung gue yang nyangkut terus dibuang di semak-semak sama pak gegana. Oiya belum sempet bilang Terima Kasih sama bapak-bapak gegana yang udah baik hati kasih tumpangan, Maturnuwun ya Pak…=)

Selesai nyobain sendal baru gue jalan kaki lagi deh menuju pintu tol Kebon Jeruk bareng Ajo yang kebetulan rumahnya juga di Tangerang. Sampe disana buset deh ramenya, tapi untungnya nunggu gak lama sekitar 20 menitan bis kita lewat. Dengan sedikit ilmu yang hanya didapat dari pengalaman naik angkutan umum bertahun-tahun berhasil-lah kami naik ke bis P 100 jurusan Senen-Cikokol yang padat abizz itu.

Berdiri empet-empetan dengan gaya semi yoga yang di luar akal sehat ternyata ngak begitu terasa saat kita lagi susah bin terdesak dan menghalalkan segala cara asal bisa pulang hahahahaha. Namun dikarenakan banjir di pintu tol Karang Tengah yang cukup dalam, banyak mobil yang memilih menepi dan menunggu banjir surut, alhasil macet lah yang terjadi. Setelah nongkrong selama hampir 2 jam akhirnya bis kami sampe juga di Kebon Nanas, ya Oloh itu perasaan ngeliat uda nyampe Tangerang ngak bisa dilukisin dengan kata-kata hahahaha, Puji Tuhan banget deh akhirnya nyampe juga…=)

Yah walaupun nyebelin, banyak hikmah lah yang bisa kita petik dari kejadian-kejadian ini, moga-moga bisa jadi pembelajaran buat kita masing-masing. Paling enggak gue nambah satu temen n pengalaman lucu yang bisa gue ceritain ke orang-orang, tapi Pak Kumis Ahlinya Jakarta mbok ya puter otak dikit buat cari solusi buat masalah ini, cuman inspeksi ma janji-janji doang mah udah basi kaleee!!!

Oiya setelah nyampe dan istirahat, baru deh kerasa itu colaterall damage petualangan gue, keseleo dan nyeri-nyeri sendi hahahahaha, nasib-nasib...=)

Label: